RANDOM POST

Selasa, 29 September 2015

Normal tapi Rendah




"Kamu normal, tapi rendah banget", kata dokter yang lagi meriksa gue, yang kemudian cuma bisa gue jawab " hah?". Fix, darah gue ga kurang, tapi rendah banget. Bukan, tentu bukan karena edward cullen. Malam itu bokap nganter gue ke klinik karena kondisi badan yang ga oke beberapa hari itu.

Di jalan pulang, kalimat dokter masih mengulang-ngulang dikepala yang masih nyut-nyutan. "Kamu normal, tapi rendah banget", terdengar menarik. cius


Kalau dipikir lagi, banyak kondisi yang rasanya nyambung dengan kalimat itu. Putus cinta salah satu contohnya. Seseorang yang sedang patah hati menjadi egois terhadap dirinya. Misal, males makan, males ngapa-ngapain. Dampaknya? Jelas dampaknya ke isi kantong, berarti pengeluaran sedikit. Tapi itu dampak positif, dampak negatifnya? Jelas ke kesehatan. Sok sok kuat ga makan cuma karena satu alasan: ga semangat. Yailah broh... Gua juga gitu sih haha. Sempet. Bagi orang yang larut dalam keadaan itu, akan semakin menyakiti diri sendiri karena cinta yang tidak menyenangkan, "lu normal ko, beneran. Tapi rendah banget!". Merasa ada yang hilang? Jelas. Ngerasa rindu? Pasti. Terus, nyaman tuh nyakitin diri? pinter dikit tolong.

Tapi gua juga gitu sih... normal ko itu asal jangan keterusan aja biar ga rendah ( < ngebela diri). Setelah mencari cara untuk keluar dari kerendahan itu, akhirnya momen ini gue siasati untuk DIET, yeahh dan berhasil. Pribahasanya sih: sambil patah hati turun dua tiga kilo terlampaui.

'Normal yang rendah banget' juga ada dalam kondisi lain. Dalam keadaan yang mungkin klasik untuk setiap orang, keadaan yang membuat kita lupa diri dan berusaha menghalalkan segala cara: jatuh cinta. Ya. karena cinta.

Ada satu kasus yang cukup krusial dalam hidup: menjatuhkan hati pada seseorang yang belum tentu ingin menangkapnya. 
Seseorang yang tengah jatuh cinta pada kondisi itu hanya memiliki 2 pilihan: terus menjatuhkan hati tanpa tau apa yang pujaanya rasa, atau mencoba berhenti tanpa malu, walau ragu. Mereka para KNPH (kaum ngenes penuh harap) selalu salah mengartikan apa yang 'dia' bilang, selalu mengubah makna netral menjadi positif, menganggap setiap kata yang 'dia' ucapkan sebagai lampu hijau untuk memulai hubungan bersama. Padahal.. kaga.

Para KNPH mungkin tau kebenarannya. Tau bahwa pujaannya tidak memujanya, Tau bahwa 'dia' mungkin tidak tau apa yang kita rasa, atau bahkan kita juga tau bahwa dia sudah memiliki 'dia'-nya, tidak seperti kita menganggapnya dialah 'dia'-ku, dengan kata lain kita bukanlah 'dia' yang disebut-sebut dalam hatinya. Para KNPH akan membodohkan diri, berusaha biasa saja, berusaha baik, berusaha 'haha' dan 'wkwk', berusaha lupa, berusaha acuh, berusaha diam, berusaha kuat, berusaha bahagia, berusaha biasa. Lalu para KNPH mulai percaya, akan tiba sebuah kesempatan untuk menjadi 'dia'-nya. Memperjuangkannya mati-matian, bermimpi tiada habis. Memaksakan jalan yang tidak disediakan untuk kita. Bersedia ada setiap saat. Lalu membusuk. 

"Kamu normal, tapi rendah banget"
Cinta menunjukan sisi normal dari manusia, ketika itu diperjuangkan tanpa ada kejelasan terus-menerus, apa itu rendah? Ga ada yang tau, tiap orang punya kamusnya sendiri.
Ngomong-ngomong, begitulah cinta membuat kalimat itu begitu nyata. Itulah mengapa kita terlihat bodoh, karena ketika sedang jatuh cinta, kita seakan tidak peduli serendah apapun kita, kita akan terus merendah jika perlu, jika memang itu dirasa mungkin membangun kesempatan dengannya. Walau sebaiknya, tidak ada yang perlu merendah. Karena cinta bukan ada untuk merendahkan kita #sokbetlumblo

Ditengah lamunan, teringat ada satu kalimat dokter lagi yang seharusnya lebih dingat pada malam itu: "paksakan diri, agar tidak rendah". Kalimat dokter yang menyarankan gue tetap makan walau ga nafsu, olahraga walaupun lemes, paksain melek walau ngantuk tiap saat. 

Atas kalimat itu, dan atas sakitnya menikmati ketidakpastian yang ditarik ulur, KNPH harus berubah. Dimulai dengan melepas ketidakpastian.

Lalu mulai hal baru...

Yang pasti.

Share this:

Posting Komentar

Sebagai manusia normal, gue masih banyak kekurangan. apabila ada kritik ataupun saran silahkan disampaikan disini. dengan catatan: harus sopan :)

 
Designed By OddThemes & Distributd By Blogger Templates