Sabtu, 29 Juli 2017

Hati dan Profesi

Sejak gue berjalan di sebuah jalur benama 'desain', pola hidup gue berubah. yang dulu begadang main game, sekarang beresin deadline (tapi gapapa, asal jangan mainin cewe aja, cowo sejati ga mainin cewe sob *tsadess). Yang dulu tiap balik kerumah langsung leha-leha, sekarang langsung siap-siap beresin deadline. perubahan ini tentu butuh proses, klimaksnya pas kuliah. Gue, yang SMA biasa cabut kelas, dapet tugas desain yang banyaknya pake banget mendadak kalang kabut waktu kuliah. Semua hal perlahan gue abaikan, gue over fokus, sampe kesehatan dan pulang kerumah aja jadi nomor sekian. Hal ini juga di keluhkan cewe gue saat itu, sampe akhirnya gue bener-bener hampir putus saat itu.

Kenapa lo over fokus?
Pernah denger istilah 'kecemplung' dalam istilah masuk kuliah? Ya, gue salah satunya, kecemplung. Kecemplung itu semacam lo salah pilih jurusan kuliah. Gue suka gambar tapi ga suka banget. Bakat? Gue gatau. Bisa gambar? Bisa. bagus? Kalo gue gambar kastil aja kaya duren, nilai deh menurut lo itu bagus apa engga? Pikir *gayacaklontong. Untuk persiapan tes bahkan Seminggu sebelum tes gambar masuk kuliah, gue ngejar-ngejar guru gue yang jago gambar buat ngajarin gue. Gue over fokus karena gue merasa gue ketinggalan jauh dengan temen-temen kuliah gue. Ketika mereka sudah punya motor untuk berjalan, gue ibarat masih jalan pake otopet yang remnya blong. Untuk ngejar temen-temen gue yang mungkin udah masuk ke gigi 4 dengan motor mereka tentunya, perlu pengorbanan. Pengorbanan itulah yang terkadang berat di hati gue, juga hati orang-orang tedekat gue.

Banyak waktu yang gue korbankan, dan mungkin serupa dengan orang lain yang agak senasib dengan gue. Pergi keperkumpulan keluarga gue absen, tamasya keluarga gue absen, wisuda orang-orang dekat gue absen, dan hal lain yang gue lupa, saking banyaknya. Beberapa hari lalu, cewe gue murka semurka murkanya karena gue batalin rencana ke wisudanya. Profesi ini terlalu sering melukai hati. Bukan. Gue nya yang melukai hati mereka.

Disuatu perbincangan dengan cewe gue kemarin, setelah murkanya agak melunak, dia bertanya, "kamu lebih milih aku atau kerjaan?"

Buat gue ini seperti ditanya mana yang lebih penting, "pacar, sahabat atau keluarga?"

Buat gue, semuanya penting. Masing masing ada di kamarnya sendiri. Dihati gue, mereka gue tempatkan di kamar yang spesial, dengan batasan yang berbeda-beda. Kerjaan pun begitu. Ada kamar tersendiri yang mengharuskan gue meletakkan ia disalah satu kamar spesial gue. Mana yang lebih penting? Tentu istri dan keluarga gue kelak, karena kerjaan belum tentu nemenin gue sampe tua, sampe dititik gue menemui ajal. Tapi gue yakin, dengan pengalaman dan pelajaran yang gue dan pacar gue terima kali ini dan nanti dan nanti dan nanti dan nanti, gue yakin gue bisa terus berkarir dengan dorongan tulus darinya nerima gue satu set lengkap dengan deadline yang mendadak dan mendesak, lengkap dengan sakit hati dan kecewanya.

Hati dan Profesi, dua hal yang saling tarik menarik di dalam pikiran gue. Jika kita mau terbuka untuk mengerti, yakinlah, mereka akan berdamai.

0 komentar:

Posting Komentar

Sebagai manusia normal, gue masih banyak kekurangan. apabila ada kritik ataupun saran silahkan disampaikan disini. dengan catatan: harus sopan :)